Memberdayakan Rowocacing Melalui Kelompok Wanita Tani

Selasa, 20 Agustus 2013, Desa Rowocacing kedatangan tamu dari Dinas Perikanan Kelautan dan Dinas Peternakan Pertanian dalam rangka untuk memberikan penyuluhan mengenai cara menanam sayur-sayuran menggunakan media polybag. Diharapkan panen sayur mayur organik tersebut dapat digunakan untuk konsumsi masyarakat Desa Rowocacing atau bahkan dapat dijual ke luar daerah Desa Rowocacing.

Mendapatkan Pengarahan Dari Dinas

Mendapatkan Pengarahan Dari Dinas

Penyuluhan ini sendiri sebenarnya telah dimulai sejak bulan Juni 2013. Kegiatan ini diprakarsai oleh 30 anggota yang tergabung dalam Kelompok ¬†Wanita Tani “Kenanga” Desa Rowocacing. Menurut Penuturan Ibu Heni selaku ketua Kelompok Wanita Tani “Kenanga”, masyarakat sangat antusias dengan program penyuluhan ini karena hasil panennya dapat langsung dikonsumsi oleh masyarakat sendiri. Sayur mayur yang ditanam merupakan sayur mayur yang biasa dikonsumsi oleh masyarakat, diantaranya seperti kembang kol, cabai, tomat, sawi, kangkung, bayam, terong, pare dan juga menanam buah pepaya.

Tim Dinas Sedang Melihat Hasil Kegiatan Warga

Tim Dinas Sedang Melihat Hasil Kegiatan Warga

Segala rangkaian kegiatan dalam penyuluhan ini didanai oleh Provinsi melalui Dinas Pertanian Kabupaten Pekalongan. Di Kecamatan Kedungwuni ini hanya dua desa yang mendapat bantuan penyuluhan ini, yakni Rowocacing dan Salakbrojo. Kedatangan tamu dari Dinas juga dalam rangka menilai kinerja hasil penyuluhan untuk selanjutnya dilombakan di tingkat kabupaten.

Desa Rowocacing Sebagai Produsen Makanan Ringan Tradisional

Kekhasan dari industri makanan ringan di Rowocacing adalah adanya rengginang buaya, untuk acara lamaran pengantin. Meski demikian, keripik dan opak hasil produksi desa Rowocacing juga sudah terkenal di pasar-pasar tradisional seperti pasar Kedungwuni, pasar Pekajangan, pasar Bligo, pasar Wiradesa dan pasar Bojong, sehingga sangat potensial untuk dikembangkan sebagai makanan ringan khas Pekalongan.

Pengembangan usaha kripik, opak  dan rengginang buaya bisa dikembangkan lagi dengan aneka rasa sehingga akan menjadikan kripik, opak dan rengginang buaya sebagai brand image oleh-oleh khas Rowocacing. Selain itu, singkong yang berlimpah di desa Rowocacing, juga bisa diolah menjadi nugget singkong yang mana bisa meningkatkan nilai jual singkong itu sendiri.

Desa Rowocacing Sebagai Lokasi KKN

Desa Rowocacing merupakan desa yang memiliki banyak potensi, seperti industri konveksi dan produsen makanan ringan tradisional. Lokasi Desa Rowocacing yang berada pada dataran tinggi ini juga memiliki potensi menjadikan wilayah ini cocok untuk pertanian holtikultura / sayuran. Banyaknya potensi yang dimiliki oleh Desa Rowocacing ini perlu dikembangkan, diantaranya, lahan perkebunan, industri konveksi dan bordir, pengrajin makanan ringan keripik, opak dan rengginang, peternakan, budidaya dan lain-lain.

Oleh karena itu, Desa Rowocacing seringkali menjadi desa bimbingan KKN. Berbagai Universitas pernah menjalani KKN di desa ini, diantaranya adalah Universitas Pekalongan dan Universitas Diponegoro. Selain untuk pengabdian, juga untuk memberdayakan masyarakat desa Rowocacing itu sendiri. Saat ini, Tim II KKN Universitas Diponegoro masih melaksanakan KKN di Desa Rowocacing terhitung sejak 15 Juli hingga 29 Agustus 2013.

Spanduk Posko KKN di Desa Rowocacing

Spanduk Posko KKN di Desa Rowocacing

Mahasiswa Undip yang mengikuti KKN melaksanakan program-program untuk memberdayakan masyarakat desa Rowocacing, baik program sesuai dengan latar belakang ilmu masing-masing maupun program multidisiplin. Program-program tersebut diantaranya adalah peningkatan kesehatan masyarakat, pengolahan limbah hasil produksi industri rumahan, strategi pemasaran nugget singkong, peningkatan mutu & eksplorasi peminatan & bakat dari SDM desa, pemanfaatan lingkungan desa dan pemanfaatan potensi air sungai untuk konsumsi.

Diharapkan dengan program-program tersebut dapat meningkatkan potensi desa Rowocacing sehingga mampu lebih baik dan menjadi desa hydrobisnis.

Industri Konveksi & Bordir di Desa Rowocacing

Industri konveksi dan batik merupakan ciri khas Kabupaten Pekalongan. Desa Rowocacing memiliki 15 konveksi unit usaha industri (home industry) yang menyerap 200 tenaga kerja yang tersebar di tiap-tiap pedukuhan. Industri konveksi ini sangatlah berpengaruh terhadap peningkatan penghasilan masyarakat desa rowocacing.

Peningkatan kapasitas dan kualitas produksi industri ini akan meningkatkan ekonomi masyarakat. Hal ini juga sesuai dengan pemerintah Kabupaten Pekalongan untuk menggerakan industri kecil dan menengah (IKM) khususnya konveksi dan bordir

Rowocacing Sebagai Sentra Penghasil Singkong

Rowocacing merupakan sentra penghasil ketela pohon/singkong dan ketela rambat di Kecamatan Kedungwuni, dengan lebih dari 25% luas wilayahnya (10 Ha) merupakan lahan kering terutama di musim kemarau. Aktivitas perdagangan singkong terlihat saat panen tiba yang bisa mencapai 100 ton. Pedagang dari luar Kabupaten Pekalongan menjadikan Desa Rowocacing sebagai pusat transaksi jual-beli singkong untuk wilayah Rowocacing, Larangan, Wringin agung, Pakisputih dan Tosaran.

Truk-truk pengangkut hasil pertanian untuk wilayah tersebut menjadikan Desa Rowocacing sebagai transit sehingga sangat potensial untuk dikembangkan sebagai pusat perdagangan singkong. Hal ini merupakan modal utama desa dalam rangka mengembangkan budidaya perkebunan dengan mengembangkan agribisnis dan home industri rumah tangga untuk meningkatkan ekonomi warga desa.

Baru-baru ini juga, KKN Tim 1 Universitas Diponegoro berhasil berinovasi dalam pengolahan singkong menjadi nugget. Hal tersebut tentu dapat menambah nilai dari singkong itu sendiri. Kini nugget singkong sedang dalam proses pengembangan

Sosial, Ekonomi & Budaya Desa Rowocacing

Kondisi Sosial

Masyarakat desa rowocacing terkenal heterogen baik dilihan dari mata pencaharian maupun pendidikan. Jumlah penduduk 2013 jiwa yang terdiri dari 508 KK. 25% lebih adalah keluarga miskin. Berdasarkan data yang ada salah satu penyebab meningkatnya angka kemiskinan adalah karena banyaknya penduduk Desa Rowocacing bekerja sebagai buruh lepas yang kontinuitas kerja tidak pasti.

Kondisi Ekonomi

Pada umumnya warga masyarakat desa Rowocacing bekerja di sektor pertanian, perdagangan, jasa, keterampilan dan buruh. Sebagian besar penduduk desa Rowocacing bekerja sebagai buruh industri konveksi dan buruh pertanian dengan upah dibawah jumlah kelayakan hidup Kabupaten Pekalongan. Tentu saja kondisi ini sangat berpengaruh terhadap kehidupan ekonomi warga desa Rowocacing, tidak terkecuali adalah kondisi lingkungan pemukiman yang menjadi terabaikan karena warga masyarakat lebih berorientasi mencari penghasilan. Hal ini dimaklumi karena kondisi penghidupan ekonomi yang masih rendah.

Kondisi Budaya

Nuansa agamis mewarnai kondisi budaya yang ada di masyarakat desa Rowocacing. salah satu bentuk seni budaya yang telah ada sejak lama adalah seni Simtu Duror. Seni ini dikelola oleh satu kelompok yang dipimpin oleh Ustad Khuzairi. Aktivitas kegiatan ini rutin dilaksanakan setiap bulan dan jika ada khajatan masyarakat baik pernikahan maupun khitan/sunatan.